Kamis, 18 Februari 2010 - 09:48:20 WIB
IKAZ Malaysia Studi Zakat ke Bank Muamalat
Diposting oleh : Herman Susilo
Kategori: KUM3
- Dibaca: 299 kali
Geliat Bank Muamalat memberdayakan dhuafa rupanya tercium sampai luar negri. Institut Kajian Zakat (IKAZ) Malaysia mengunjungi kantor pusat Bank Muamalat Indonesia (BMI) Rabu 17/02/2010. Selain untuk meneliti tentang Islamic Microfinance
di Indonesia, kunjungan ini bertujuan untuk berbagi pengetahuan
mengenai perbandingan implementasi zakat di Indonesia dan Malaysia.
IKAZ diwakili oleh Prof DR. Ahmad Bin Che Yaacob dan Prof. Dr. Abd.
Halim Mohd Noor. Sementara itu, BMI diwakili oleh Direktur Eksekutif BaitulMaal Muamalat (BMM), Isnaini Mufti Aziz.
“Ini luar biasa, memberdayakan mustahik dengan optimalisasi masjid sebagai center of activities” ujar Ahmad di sela-sela diskusi. IKAZ terarik dengan berbagai program kerja BMM dalam memberdayakan masyarakat dhuafa anatara lain ATM, Santun, KUM3, ISS, Orphan Kafala, dan LKMS. Program yang banyak mendapat perhatian IKAZ adalah KUM3 (Komunitas Usaha Mikro Muamalat berbasis Masjid) yang digagas BMM sejak 2006. Program ini merupakan program pemberdayaan ekonomi mustahik melalui pengguliran dana zakat sebagai modal usaha berbasis
masjid. Program yang telah dimulai sejak September 2006 ini tersebar di
24 kabupaten/kota dan telah memberdayakan 4.697 mustahik di 185 masjid di seluruh Indonesia.
Secara khusus IKAZ mengundang BMM untuk mempresentaasikan paper tentang KUM3 pada Konferensi Internasional Islamic Microfinance yang
akan diselenggarakan November mendatang. ''Kami berharap ini menjadi
model bagi pelaku microfinance di belahan dunia lainnya,'' tukas Ahmad. Adapun Abdul
Halim yakin bahwa program KUM3 BMM ini sangat layak menjadi bahan
disertasi bagi para peneliti microfinance di Malaysia. ''Apalagi sudah
ada experience selama tiga tahun tentu data tentang keberhasilan program ini sangat mendukung hal itu,'' tambah Abdul Halim.
Sepanjang
tahun 2009 lalu BMM menggelontorkan dana lebih dari 20 Miliar untuk
berbagai program pemberdayaan dhuafa. Dana tersebut dihimpun BMM
terutama dari penyisihan laba Bank Muamalat Indonesia (BMI), dan
sisanya dari berbagai donatur dan masyarakat luas.
Berbeda dengan BMI yang menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi antara surplus spending unit dan deficit spending unit , BMM fokus pada fungsinya sebagai lembaga intermediasi antara muzakki dengan mustahik. Sebagai lembaga non profit yang didirikan oleh Bank Muamalat, BMM berkonsentrasi pada program pemberdayaan yang berupa community development, microfianance dan Islamic social fund. Selain KUM3, program unggulan BMM lainnya adalah Orphan Kafala, yang merupakan program jaminan bagi anak yatim. Sebagai donator program ini, Islamic Development Bank (IDB) telah menggelontorkan puluhan miliar rupiah untuk memberikan
jaminan hidup melalui pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, jaminan
pendidikan melalui pemberian beasiswa, dan jaminan kesehatan bagi lebih
dari 3000 anak yatim korban konflik dan tsunami aceh. Tak main-main,
sebagai operator, BMM menjalankan program ini dengan pengasuhan dan
pembinaan secara rutin baik keagamaan maupun akademik, pembekalan
mental, pelatihan kewirausahaan, serta life skill. Tahun 2009, realisasi program ini mencapai Rp. 9.5 Miliar.
BMM juga menjalankan aksi kemanusiaan untuk membantu korban bencana alam di seluruh Indonesia melalui program Aksi Tanggap Muamalat (ATM). ATM terdiri dari 3 tahapan, yaitu tahap emergensi, tahap rehabilitasi, dan tahap recovery. 2009 lalu, ATM dilaksanakan antara lain di Padang dan Jawa Barat dengan menyalurkan bantuan
kepada korban gempa untuk memenuhi kebutuhan pada masa darurat,
membangun kembali rumah dan tempat ibadah, memberikan bantuan
pendidikan, dan bantuan modal kepada para korban.





Salurkan ZISWAF Anda ke Rekening Bank Muamalat :



